Harian Berita — Partai Populis Sanseito Menang Besar di Pemilu Majelis Tinggi
Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, dikabarkan akan mengundurkan diri dari jabatannya setelah koalisi pemerintah yang ia pimpin gagal meraih mayoritas suara dalam pemilihan umum majelis tinggi Jepang yang digelar Minggu (20/7/2025).
Informasi ini disampaikan oleh seorang sumber dekat kepada Reuters, yang menyebut Ishiba belum bisa segera mundur demi menjaga stabilitas politik nasional, terutama di tengah tekanan ekonomi dan tarif impor dari Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan media Jepang, Ishiba diperkirakan akan secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya pada bulan depan.
Koalisi Ishiba Gagal Capai Mayoritas
Koalisi yang dipimpin Ishiba—terdiri dari Partai Demokratik Liberal (LDP) dan Komeito—hanya meraih 47 kursi dalam pemilu majelis tinggi. Padahal, untuk mendapatkan kendali, mereka harus memperoleh minimal 50 kursi dari total 124 kursi yang diperebutkan.
Apabila digabungkan dengan kursi yang sebelumnya sudah dikuasai, koalisi saat ini memiliki total 75 kursi dari keseluruhan 248 anggota majelis tinggi. Namun, hasil ini dianggap kekalahan signifikan, karena melanjutkan tren menurunnya dukungan terhadap pemerintah Ishiba, yang sebelumnya juga kehilangan mayoritas di majelis rendah pada Oktober 2024.
Situasi ini membuat posisi politik Ishiba kian terjepit dan menurunkan kepercayaan terhadap kepemimpinannya, baik dari dalam partai maupun publik.
Ketidakstabilan Politik Jepang Memburuk
Kekalahan beruntun dalam dua pemilu legislatif besar memperlemah kemampuan pemerintah untuk menjalankan kebijakan—terutama agenda reformasi ekonomi dan pertahanan yang menjadi prioritas Ishiba.
Lebih jauh, potensi pengunduran dirinya telah memicu gejolak politik internal di tubuh Partai Demokratik Liberal, yang kini menghadapi ancaman dari munculnya partai-partai baru, terutama dari sayap kanan.
Dalam pemilu terbaru ini, Sanseito, sebuah partai populis sayap kanan, tampil sebagai kejutan besar dengan meraih 14 kursi, naik drastis dari hanya satu kursi sebelumnya. Ini menjadi pukulan telak bagi partai koalisi pemerintah.
Sanseito yang berarti “Partai Suara Rakyat”, didirikan pada 2020 oleh Sohei Kamiya, seorang mantan guru bahasa Inggris dan manajer supermarket. Partai ini mulai dikenal selama pandemi karena menyebarkan berbagai teori konspirasi tentang vaksin dan elit global.
Akan tetapi menjelang pemilu 2025, Sanseito mengubah strategi kampanye dengan mengusung isu-isu nasionalistik melalui slogan “Japanese First”, yang menolak imigrasi berlebihan, mengkritik lonjakan turis asing, dan menyuarakan keprihatinan atas perekonomian Jepang.
Perebutan Kekuasaan di Internal Partai Mulai Terlihat
Jika benar Ishiba mundur, maka Partai Demokratik Liberal akan menggelar pemilihan ketua baru, yang otomatis akan menjadi calon perdana menteri berikutnya. Sejumlah tokoh partai disebut telah bersiap mengambil alih posisi, meski belum ada nama yang secara resmi mencuat sebagai pengganti.
Dengan munculnya tantangan dari partai baru dan turunnya dukungan publik, LDP menghadapi masa depan yang tidak pasti. Jepang pun bersiap memasuki periode transisi politik yang cukup krusial.
